Malang, 7 Juli 2026 – BOJONEGORO, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Pengurus TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk bersama Komunitas Arisan Sampah Mapak Kecamatan Sukosewu mengikuti studi tiru pengelolaan sampah berkelanjutan di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Sabtu 4 Juli 2027.
Kegiatan bertajuk “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih” tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Bojonegoro.
Peserta memperoleh pembelajaran mengenai sistem pengumpulan, pemilahan, pengolahan sampah, serta penguatan kelembagaan pengelola TPS 3R.
Selain itu, peserta berdialog dengan pengelola TPST 3R Mulyoagung Bersatu mengenai strategi untuk membangun partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan.
Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan kunjungan tersebut merupakan upaya pemerintah desa meningkatkan kapasitas pengelola sampah sekaligus memperkuat budaya pengelolaan sampah di masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang telah menerima kami dengan sangat baik. Tujuan kami datang adalah belajar dari praktik yang sudah berhasil agar dapat dikembangkan di Desa Trucuk,” ujarnya.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dan dibagikan kepada masyarakat sehingga mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Trucuk.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan dan ditularkan kepada masyarakat sehingga mampu mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Trucuk,” katanya.
Sementara itu, perwakilan ExxonMobil, Al Maliki Ukay Sukaya Subqy, menilai studi tiru tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.
“Semoga kegiatan studi tiru ini berjalan sukses dan mampu mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Bojonegoro menjadi semakin maju,” ujarnya.
Wakil Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Nugraha Wijayanto, menegaskan pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari kesadaran masyarakat.
“Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Semua harus dimulai dari niat yang tulus untuk menjaga lingkungan,” katanya.
Selain pemaparan materi, peserta juga melihat langsung proses pemilahan sampah, pemanfaatan sampah organik melalui maggot, pembuatan sabun, serta operasional TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang mengelola rata-rata 40 ton sampah per hari.
Perwakilan Alas Institute, Achmad Danial Abidin, mengapresiasi antusiasme peserta dan berharap kolaborasi pengelolaan sampah berkelanjutan di Bojonegoro terus diperkuat.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab mengenai tata kelola operasional TPS 3R, pembiayaan, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penguatan kelembagaan pengelola sampah. (top)